INFORMASITERKINI1.COM
PEMALANG , Sabtu (24/1/26 – langit di atas Pemalang tidak sekadar mendung; ia sedang berkabung. Di bawah naungan Gunung Slamet yang agung, sebuah simfoni bencana tercipta bukan oleh alam semata, melainkan oleh tangan-tangan yang tega merobek rahim bumi demi perizinan tambang yang dipaksakan.
Hujan yang turun bukan lagi membawa kehidupan, melainkan sebuah sapuan maut yang mengerikan. Dalam satu tarikan napas air yang menderu, gunung seolah memuntahkan isinya: air lumpur pekat, batu-batu besar yang beser, hingga gelondongan kayu raksasa menyatu menjadi monster yang merayap turun.
Kayu-kayu yang dulu menjadi pasak bumi, kini terhanyut seperti lidi, menghantam dinding-dinding harapan warga. Batu-batu gunung yang tercabut dari akarnya menggelinding beringas, membuktikan bahwa hutan di hulu tak lagi mampu mendekap tanah akibat eksploitasi pertambangan.
Bencana ini meninggalkan jejak kehancuran yang nyata di dua kecamatan, menyapu alamat-alamat yang selama ini menjadi tempat berteduh ratusan jiwa:
1. Kecamatan Pulosari:
Desa Penakir: Menjadi saksi bisu betapa ringkihnya hidup; delapan rumah lenyap ditelan arus, menyisakan puing dan air mata.
Desa Nyalembeng & Desa Gunungsari: Di mana tanah tak lagi berpijak, berganti dengan lumpur yang mengubur harta benda.
2. Kecamatan Moga:
Desa Sima: Khususnya di Dusun Gintung dan Dusun Tretep, di mana puluhan rumah hancur dihantam material batu-batu besar.
Desa Pepedan: Ruang tamu warga kini berubah menjadi muara lumpur dan kayu gelondongan yang berserakan.
Ratusan warga kini merenung di tengah puing, mencoba memilah sisa hidup di antara batu dan gelondongan kayu. Bencana ini adalah cermin retak bagi para pemegang kebijakan yang memberikan izin pertambangan di zona sakral lereng Slamet. Mereka mencetak angka di atas kertas perizinan, sementara rakyat di hilir memanen batu dan lumpur di atas luka.
Kini, warga bukan hanya butuh uluran tangan untuk membersihkan sisa kayu, tapi butuh keberanian pemerintah untuk mencabut izin yang merusak. Karena jika eksploitasi tak segera dihentikan, setiap rintik hujan akan selalu menjadi lonceng kematian bagi warga Pemalang.


